Blog

25

Feb

2022

Tolong, Selamatkan Istriku | Chapter VI: Demi Sarah

Posted by Stress Management Indonesia
Tolong, Selamatkan Istriku | Chapter VI: Demi Sarah image

Hari demi hari kondisi Ibu Sarah terus mengalami penurunan, nyatanya berobat di dokter dan psikiater belum juga menemui titik terang untuk kesembuhan Ibu Sarah. Melihat tanda-tanda kondisi Ibu Sarah yang baru berumur 58 tahun namun bicaranya sudah berantakan, tidak bisa berpakaian sendiri, pandangannya kosong, harus disuapi, dan saat jalan harus dituntun menjadi kekhawatiran Suster Ana terutama Pak Ilham. 

Tugas Suster Ana di rumah Pak Ilham bukan hanya menjadi sosok yang membantu Ibu Sarah dan ibu mertua tetapi, juga harus memberikan support kepada Pak Ilham yang harus terus menjaga dan mendampingi sang istri. Langkah Pak Ilham memilih berhenti tepat di hadapan jendela, merasakan bagaimana angin menyapa wajahnya. 

“Pak, sepertinya kondisi  Ibu Sarah semakin memburuk.” Suster Ana menghampiri dan mulai membuka pembicaraan. 

“Iya Sus, saya juga merasa seperti itu. Sudah dibawa ke dokter bahkan ke psikiater pun sama sekali belum ada perubahan. Saya takut Sus, istri saya sudah tidak bisa mengenali saya di sisa hidupnya nanti.” Pak Ilham semakin kacau melihat kondisi istrinya. 

“Menghadapi seseorang yang mengidap demensia memang harus sabar, Pak. Bapak termasuk orang yang paling kuat dan setia mendampingi istrinya. Mungkin, beberapa orang akan memilih untuk membiarkan istrinya diurus oleh orang lain sepenuhnya dibandingkan merawatnya secara personal hingga bertahun-tahun.” Suster Ana kembali menimpali pernyataan Pak Ilham. 

“Saya merasa sudah tidak bisa apa-apa lagi Sus, saya sudah capek dengan usaha yang kemarin saya lakukan,” resah Pak Ilham. Wajahnya tampak memerah, air matanya sudah lebih dulu berada di pipi. Isakan sosok suami Ibu Sarah untuk pertama kalinya tidak bisa lagi dibendung untuk terlihat kuat. 

“Saya mengerti apa yang Bapak rasakan saat ini. Di posisi Pak Ilham belum tentu saya pun bisa menghadapinya. Tapi, jika saya menjadi Bapak, saya tidak ingin putus asa, saya tidak ingin mundur. Bagaimana kalau kita cari psikiater yang lain Pak, siapa tahu dengan usaha lagi Ibu Sarah kondisinya bisa stabil ataupun lebih membaik lagi,” lanjut Suster Ana memberi semangat kepada Pak Ilham. 

“Baik Sus, bismillah, semoga usaha selanjutnya bisa memberi hasil yang lebih baik,” ujar Pak Ilham.

Suster Ana pamit keluar kamar, ingin memberi waktu kepada Pak Ilham untuk menenangkan isi kepala yang sudah mulai ramai. Mata Pak Ilham melirik istrinya yang tengah bersandar di ranjang. Berpikir sejenak atas kalimat-kalimat yang dilontarkan Suster Ana. 

Bagaimana jika Pak Ilham mencoba mengusahakannya lagi, apa masih ada kemungkinan yang Tuhan berikan? Jika dia berhenti, itu berarti Pak Ilham harus siap menanggung semuanya. Bahwa usahanya sudah berhenti dan tidak ada lagi kesembuhan untuk sang istri. 

Gawainya berdering, hanya ada dua belas angka yang tertera. Nomor asing yang baru pertama kali tampak di layar gawai Pak Ilham. 

“Assalamu alaikum, Ilham? Saya Mirna, ini nomor baru aku. Gimana nih keadaan istri kamu?” Sahutnya, dari seberang telepon. 

“Waalaikumsalam, Halo Mirna. Saya kira siapa yang nelpon. Keadaan Sarah sekarang semakin memburuk sih Mir. Saya sudah coba ke dokter dan psikiater sampai dosis obatnya selalu dinaikin tapi tetap saja belum ada perubahan.” Pak Ilham menjelaskan ke sepupunya bagaimana kondisi sang istri. 

“Turut prihatin Ilham, saya mau rekomendasiin kamu nih salah satu orang yang saya kenal dan percaya dia dapat membuat Sarah menjadi membaik. Terapi yang ia gunakan, jarang dilakukan oleh orang lain dan bisa dikatakan aku merasa dia dapat menjadi jalanmu agar Sarah membaik. Nama programnya home based program. Siapa tahu kamu butuh dan Sarah bisa cocok,” balas Mirna. 

“Boleh Mir, kirimin kontaknya ya! Sekarang, saya memang sedang mencari jalan keluar lainnya selain psikiater karena Sarah belum ada tanda-tanda membaik selama 10 tahun ini. Tadinya, saya berpikir untuk berhenti Mir, karena rasanya usaha saya belum ada jawaban dan terkesan sia-sia,” jelas Pak Ilham.

“Oke, Ilham. Semoga yang aku rekomendasikan ini sudah cocok dengan Sarah dan bisa buat kesehatannya membaik. Kalau kamu mau dianterin atau butuh apa-apa kabarin aja ya Ilham. Kebetulan, dia membuka praktik di bagian kesehatan mental di apartemen yang aku kelola dapat kamu cek di website mereka. Nama tempatnya Stress Management Indonesia. Namun, lebih baik kamu ke tempatnya langsung dan berdiskusi agar dapat dijelaskan mendalam mengenai program yang dimiliki olehnya. Tentunya agak sedikit berbeda dari yang telah kamu lakukan. Lagipula, kamu tidak perlu sungkan, kita kan saudara.” Ujar Mirna sebelum mengakhiri panggilan teleponnya. 

Tanpa mengetahui secara detail tempat yang direkomendasikan, Pak Ilham bersyukur, sebab saat dirinya merasa ingin berhenti, dukungan datang dari sahabat, saudara maupun teman-teman, membuatnya melihat secarik harapan. Melihat kondisi Ibu Sarah, Pak Ilham memutuskan untuk berpindah menggunakan tempat praktik yang direkomendasikan sepupunya setelah melalui pertimbangan yang juga melibatkan Suster Ana. 

“Suster, besok kita bawa Ibu ke Apartemen yang dikelola Ibu Mirna ya! Saya dengar tempat ini memiliki cara berbeda untuk menyembuhkan kesehatan mental dari website yang telah saya cek. Semoga dengan cara ini, Ibu dapat menjadi lebih baik dari sebelumnya,” tutur Pak Ilham mulai meyakinkan dirinya lagi mendampingi sang istri agar  bisa mengingatnya. 

“Baik, Pak,” balas Suster Ana sambil tersenyum melihat raut wajah Pak Ilham yang mulai kembali bersemangat. 

Esok harinya, Pak Ilham bersama Suster Ana mendampingi Ibu Sarah ketempat yang direkomendasikan oleh saudaranya. Saat di perjalanan Ibu Sarah masih saja berteriak-teriak kemudian dilanjutkan dengan pandangan kosongnya. Entah apa yang terbesit dalam pikiran seseorang yang mengidap demensia. 

Begitu mereka memasuki sebuah ruangan bernuansa homey, mereka disambut dengan senyuman terulas di bibir seorang perempuan paruh baya blasteran german-chinese-indo yang mengucapkan,”Selamat datang, Pak Ilham dan Bu Sarah. Apa kabar?”

Based on true story

Written by Andi Iqriani
COPYRIGHT PT Stress Management Indonesia