Blog

22

Feb

2022

Tolong, Selamatkan Istriku | Chapter V: Aku, Ilham Suamimu

Posted by Stress Management Indonesia
Tolong, Selamatkan Istriku | Chapter V: Aku, Ilham Suamimu image

Mendengar suara teriakan tersebut, Suster Ana dan Pak Ilham segera menuju kamar dengan tergesa-gesa, takut terjadi apa-apa dengan Ibu Sarah. Sebab, Ini bukan kali pertama sang istri teriak-teriak. Bahkan, secara tiba-tiba Ibu Sarah bisa marah-marah tidak jelas. Sekarang, Ibu Sarah akhirnya mencoba berobat di psikiater akibat dari kondisinya yang terus menurun drastis. Kemudian, setiap pertemuan kembali ke psikiater, dosis yang digunakan pun selalu dinaikkan. Namun, tetap saja kondisinya semakin memburuk. 

Dari luar kamar dapat terdengar suara yang memekik, berasal dari suara ibu mertua Pak Ilham yang kondisi kesehatan mentalnya pun kurang baik akibat dari paranoid diderita ibu mertuanya selama bertahun-tahun. Biasanya dia akan merasa curiga dan tidak percaya dengan orang lain yang ada di sekitarnya. Dapat dikatakan bahwa selama ini  ibu mertuanya lebih banyak menutup diri, enggan bercerita pada orang lain. Jika sedang marah, suaranya akan terdengar lebih jelas dan keras dibanding biasanya. Hal tersebut menjadi salah satu pemicu kondisi Ibu Sarah yang memburuk. 

Seakan sudah terbiasa menghadapi situasi yang  seperti itu, Pak Ilham telah mempercayakan suster Ana untuk membantu mengurus kondisi istri dan mertuanya. Memikirkan soal apa yang terjadi di rumahnya bukanlah hal yang  dapat dihadapi oleh semua orang. Akan tetapi, Pak Ilham adalah sosok suami yang keberadaannya sangat langka di dunia ini.  

Semakin hari kondisi Ibu Sarah kian menurun, sudah banyak tempat terapi yang diusahakan Pak Ilham agar segera melihat kesembuhan istrinya. Namun, nihil tidak ada tanda kestabilan dan peningkatan yang terjadi pada Ibu Sarah. Baginya, menemani sang istri menemukan tempat yang cocok bukanlah hal yang melelahkan. Walaupun harus mengorbankan pekerjaan, itu bukanlah menjadi  alasan bagi Pak Ilham.

Rasa cemas dari wajah Pak Ilham selalu ia tutupi dengan senyuman kuatnya. Tapi, bagi Suster Ana yang sudah beberapa tahun belakangan ini menjadi bagian dari keluarga Pak Ilham tentunya sudah tahu jika sosok yang selalu mendampingi sang istri itu adalah suami yang luar biasa. 

“Permisi, Pak, ini saya bawa makan siang Ibu Sarah.” Suster Ana masuk ke dalam kamar sambil membawa nampan yang ia pegang erat di kedua tangannya.

“Silakan masuk, simpan di atas meja saja Suster nanti biar saya yang suapin Ibu,” kata Pak Ilham. 

Usai menyiapkan makan siang, suster Ana berlalu keluar kamar. Saat Pak Ilham memilih berada di rumah. Ia akan selalu menjadi alarm 24 jam bagi sang istri. Pelan-pelan, dirinya mulai menyendokkan makanan kemudian, menyuapi sang istri. Bibirnya bergetar, dadanya sesak, sesekali ia mencoba memalingkan wajah  agar tidak terlihat menahan air mata. Ibu Sarah masih saja beradu dengan pandangan kosong.

“Aaaaa aaaaaa aaaaaa.”  Teriak Ibu Sarah saat Pak Ilham menyuapinya. 

Hampir setiap hari, saat makan siang ataupun makan malam. Reaksi yang diberikan Ibu Sarah bisa datang tiba-tiba. Di sela-sela makan, Pak Ilham berpikir sejenak jika tidak pernah menyangka sejauh ini bersama sang istri ada banyak hal yang harus ia lalui. 

“Ibu, Bu tenang Bu, ini Bapak.” Tangan Pak Ilham mengarah ke kepala Ibu Sarah sambil mengelus lembut puncak kepalanya. Ada genangan air mata yang tidak bisa Pak Ilham tutupi. 

“Aaaaa aaaaaa aaaaaa.” Ibu Sarah berteriak, menjatuhkan piring yang ada di tangan  sang suami. 

Pak Ilham seketika kaget melihat puing-puing piring berserakan di lantai kamar. Ada kesedihan di dalam lubuk hati Pak Ilham yang beberapa tahun ini ia rasakan.   

Suster Ana mendengar ada sesuatu jatuh di dalam kamar, lalu segera mengecek dan beralih merapikan kekacauan yang ditangkap oleh matanya. Ibu Sarah ditenangkan oleh Suster Ana, Pak Ilham pelan-pelan pun mengajak istrinya berkomunikasi. Mengenalkan diri, membelai lembut kedua tangannya, memperlihatkan foto-foto kenangan mereka berdua. 

“Bu, saya Ilham, suami, Ibu.” Pak Ilham mengucapkannya dengan nada pelan dan mengulanginya beberapa kali. Sayang, tidak ada jawaban yang diperoleh Pak Ilham. 



Based on true story

Written by Andi Iqriani
COPYRIGHT PT Stress Management Indonesia