Blog

18

Feb

2022

Tolong, Selamatkan Istriku | Chapter IV: Memori: Mimpi Buruk

Posted by Stress Management Indonesia
Tolong, Selamatkan Istriku | Chapter IV: Memori: Mimpi Buruk image

Tak sampai 30 menit, Pak Ilham sudah datang diantar mobil kantor hingga titik lokasi Ibu Sarah. Segera mungkin, Pak Ilham mengemudi menuju tempat sekali dalam setahun yang selalu mereka kunjungi saat mengulang hari pernikahannya. 

“Pak, Ibu kok capek banget ya? Nanti pas udah sampai rumah. Ibu mau langsung istirahat.” Ibu Sarah mengeluh capek dan masih enggan menceritakan jika ada masalah yang terjadi di kantor. 

“Eh, Bu. Ibu lupa hari ini hari apa?” Pak Ilham segera bertanya.

“Hari rabu Pak, kok kayak aneh bapak nanya-nanya hari gitu?” Ucap Ibu Sarah merasa heran dengan Pak Ilham yang tiba-tiba menanyakan hari. 

Tanpa sepengetahuan Ibu Sarah, Pak Ilham yang tadinya menuju ke tempat yang paling dinantikan sekali dalam setahun itu diurungkannya. Apa yang dirasakan Pak Ilham membuatnya semakin yakin jika istrinya perlu melakukan pemeriksaan ke dokter. Pemandangan malam tidak menarik lagi, apa yang Pak Ilham sudah rencanakan di tempat itu harus dibayar rasa kecewa. Dia tidak ingin menyalahkan Ibu Sarah.

“Bu, besok kita ke dokter ya! Kan udah lama gak ngecek kesehatan Ibu dan Bapak.” Pak Ilham membuka pembicaraan. 

“Boleh Pak, Ibu juga rasanya beberapa pekan ini cepat merasa capek dan gak fokus,” sahut Ibu Sarah sambil menyandarkan kepalanya di kursi mobil. 

Usai sampai di rumah, Pak Ilham sangat sulit memejamkan mata, lagi-lagi ia merasa sangat takut dilupakan oleh Ibu Sarah. Semoga apa yang ia baca semalam berbeda dari diagnosis dokter besok. 

Pukul 10.00, Ibu Sarah dan Pak Ilham mulai melaju membelah jalan yang lengang di pagi hari. Ibu Sarah mulai menyampaikan hal-hal yang ia rasakan selama beberapa pekan ini dan juga menjalani beberapa tes untuk lebih meyakinkan hasilnya. Tanpa sepengetahuan Ibu Sarah, Pak Ilham sudah memberitahukan ke dokter jika istrinya mengalami perubahan-perubahan yang mengarah ke demensia. 

Ibu Sarah didiagnosis mengidap penyakit demensia. Dunia Pak Ilham seakan runtuh, mengetahui  Ibu Sarah  yang selalu menemani perlahan akan melupakannya. 

Pak Ilham memutuskan untuk mencoba memeriksakan Ibu Sarah ke dokter yang berbeda. Namun, nihil tiga dokter mengeluarkan hasil yang sama bahwa Ibu Sarah mengidap penyakit demensia. Tanpa berpikir panjang, Pak Ilham meminta ke dokter untuk segera dilakukan pengobatan. 

Semakin hari, kondisi Ibu Sarah tidak bisa terkontrol dengan baik. Hingga Pak Ilham menyarankan agar sang istri berhenti bekerja untuk fokus memulihkan kesehatannya. Berbulan-bulan menjalani pengobatan, belum juga ada yang cocok. Tiga hari yang lalu, Pak Ilham baru mengabari sang anak yang berada di luar negeri jika ibunya mengalami demensia. Cukup berat bagi Pak Ilham untuk menjelaskannya. Namun, sebagai anak mereka wajib tahu bagaimana kondisi sang ibu. 

Hati kecil anaknya merintih, jarak yang cukup jauh dan pekerjaan yang padat di luar negeri membuatnya hanya bisa mendoakan sang ibu. Pak Ilham sangat memahami anaknya, dia juga tidak ingin menjadikan istrinya beban yang besar di kehidupannya. 

Mimpi buruk Pak Ilham sepuluh tahun lalu berubah menjadi kenyataan. Ketakutannya dilupakan, ternyata menjadi nyata. Sekarang, di mata Ibu Sarah Pak Ilham adalah orang asing. Perubahan yang terjadi pada Ibu Sarah pun semakin tidak stabil. 

“Aaaaa aaaaaa aaaaaa.” Teriak Ibu Sarah dari kamar tidurnya. 

 

Based on true story

Written by Andi Iqriani
COPYRIGHT PT Stress Management Indonesia