Blog

15

Feb

2022

Tolong, Selamatkan Istriku | Chapter III: Memori: Takut Dilupakan

Posted by Stress Management Indonesia
Tolong, Selamatkan Istriku | Chapter III: Memori: Takut Dilupakan image

Hari sudah tidak secerah matahari pagi lagi. Saatnya bulan dan bintang saling bekerja sama menghidupkan malam. Ibu Sarah selalu berusaha untuk pulang lebih awal dibandingkan Pak Ilham. Namun, sayang, malam ini dirinya harus bekerja lembur karena ada hal mendesak yang harus diselesaikan dan itu akan sangat penting bagi perusahaannya.

Berbeda dengan Pak Ilham, ia sudah tiba di rumah tepat setelah azan salat Isya. Ia bergegas memenuhi kewajibannya dulu, sebelum kembali menatap layar laptop. Langkahnya menuju ke ruang tamu tempat di mana ia menunggu perempuan yang selalu menjadi alasannya untuk pulang lebih awal berpuluh-puluh tahun ini.

Mata Pak Ilham tidak bisa berpaling dari pintu, entah kenapa perasaannya belum tenang jika Ibu Sarah belum berada di rumah bersamanya. Sambil menunggu Ibu Sarah, ia menyalakan televisi, dunia berita memang paling menarik bagi Pak Ilham. Tidak lupa, laptop yang ada di atas nakas depannya juga terlihat punya banyak beban untuk segera diselesaikan. 

Malam tampak semakin larut, detik jam dinding seakan jauh lebih cepat berganti waktu. Terdengar bunyi mobil memasuki garasi. Pak Ilham tidak menduga lagi siapa yang akan datang malam–malam begini jika bukan sang istri. 

“Assalamu alaikum,” ucapnya dari pintu tempatnya berdiri. 

“Waalaikumsalam,” jawab Pak Ilham sambil menoleh ke arah asal suara itu berada.

Ibu Sarah menghampiri Pak Ilham ke ruang tamu. Rutinitas bertahun-tahun yang dijalaninya ternyata tidak memudar sejauh ini. Ibu Sarah mencium tangan Pak Ilham sebagai tanda menghormati dan menyayangi sang suami. Lalu, ia duduk di samping sofa tempat Pak Ilham menyelesaikan rentetan kesibukan dunia yang sedang dihadapinya. Baru saja duduk di sofa, gawai milik Ibu Sarah berbunyi.  

“Halo?” Tanya Ibu Sarah sambil memegang gawainya. 

Pak Ilham yang melihat istrinya kebingungan. Pasalnya, yang dipegang Ibu Sarah bukan gawai, melainkan remote TV yang berada di atas nakas dekat gawai Ibu Sarah. 

“Ibu, itu remote TV lho! Bukan hp Bu!” Pak Ilham menegur Ibu Sarah.

Mendengar perkataan Pak Ilham ia langsung melihat gawainya masih melekat di atas nakas. Tatapan Ibu Sarah menampakkan raut kebingungan. Padahal jelas teringat jika apa yang dipegangnya itu adalah gawai miliknya. Ibu Sarah pun segera mengambil tas dan gawai kemudian berlalu menuju kamar. 

“Bu, Ibu, mau ke mana?” Tanya Pak Ilham yang melihat sang istri berjalan menuju dapur. 

“Mau istirahat Pak, Ibu sepertinya kecapean dari kantor.” Jawabnya.

“Lho, kok Ibu ke arah dapur? Kamar kan di atas,” ucap Pak Ilham masih bingung dengan apa yang terjadi pada sang istri. 

“Astagfirullah,” kata Ibu Sarah sambil menepuk jidat.

Pak Ilham yang mengamati perubahan perilaku Ibu Sarah setiap harinya mulai merasa ada yang berbeda dibanding pekan kemarin. Mungkin dengan mencari informasi di internet bisa sedikit menjawab rasa penasarannya. 

Matanya tidak berkedip, sibuk membaca paragraf demi paragraf di layar laptopnya. Apa yang terjadi di keseharian Ibu Sarah saat ini sangat mirip dengan apa yang sedang dibaca Pak Ilham. Kedua tangannya beralih ke kepalanya, merasa tidak percaya jika istrinya secepat ini akan terkena penyakit demensia. Pak Ilham menarik napas dalam-dalam untuk menetralkan apa yang sedang isi kepalanya perdebatkan. 

Bagaimana jika Ibu Sarah melupakan Pak Ilham? Bagaimana jika Pak Ilham kembali asing di mata Ibu Sarah? Bagaimana jika sosok perempuan yang dicintai selama ini akan perlahan lupa dengan semua kenangan yang mereka bangun selama bertahun-tahun. Berbagai pertanyaan menghantam pikirannya, ketakutan, rasa khawatir, cemas sudah bercampur menjadi satu malam itu. 

Bagaikan sedang dalam perjalanan menuju mimpi buruk bagi Pak Ilham. Padahal, besok adalah hari yang sangat spesial dan dinantikan setiap tahun. Tapi, Pak Ilham yakin, Ibu Sarah tidak akan melupakan tanggal di mana mereka berdua saling mengikat janji suci semenjak 38 tahun yang lalu. 

Keesokan harinya, Ibu Sarah lebih dulu berangkat menuju kantor karena akan bertemu dengan rekan kerjanya. Sesampainya di ruang kerja, ia segera mencari berkas yang ia kerjakan pada saat lembur. Namun sama sekali tidak ada. Ibu Sarah mulai panik, apa yang harus ia lakukan, beberapa menit lagi berkas itu harus dipresentasikan di hadapan para tamu-tamu perusahaan yang akan hadir. 

Pimpinan tempat Ibu Sarah bekerja, sangat kecewa dengan sikap Ibu Sarah yang tidak bertanggung jawab sehingga membuat perusahaan menjadi gagal bekerja sama dengan perusahaan ternama itu. Pikiran Ibu Sarah mulai kacau, seakan menyalahkan dirinya sendiri dan merasa bahwa ada beberapa hal yang sebelumnya juga tidak dapat ia tangani dengan baik. 

Hari ini, ia pulang lebih awal. Namun, karena sopir pribadi yang biasa sering menemaninya pulang dan pergi ke kantor itu sakit, Ia dituntut untuk bisa mengendarai mobilnya sendiri. Di tengah perjalanan Ibu Sarah mulai sedikit bingung apa dia harus belok kanan mengikuti truk yang ada di depannya atau belok kiri mengikuti ojek online yang sedang sepi pelanggan. 

Dengan modal yakin, Ibu Sarah mulai mengikuti ojek online yang ada di depannya. Perjalanan pulang seakan menjadi teka-teki bagi Ibu Sarah. Kurang lebih beberapa menit berkendara ia merasa tidak melihat rumahnya sendiri. Akhirnya, ia mencoba menelpon Pak Ilham. 

“Assalamualaikum, halo Pak, ini Ibu dari tadi jalan, tapi gak sampai-sampai rumah. Ibu bagi lokasi ya ke Bapak. Ini lagi di mana.” Ucap Ibu Sarah sambil terus melihat jalan di sekitarnya. 

“Waalaikumsalam, Iya, Bu. Astagfirullah, kenapa bisa lupa Bu? itu kan kalau dari arah kantor Ibu, mentok belok kanan. Ya sudah saya susul ya! Segera kirimkan lokasi Ibu!” Kata Pak Ilham di seberang telepon dengan nada cemas.

 

Based on true story

Written by Andi Iqriani
COPYRIGHT PT Stress Management Indonesia