Blog

11

Feb

2022

Tolong, Selamatkan Istriku | Chapter II: Memori: Istriku Berubah

Tolong, Selamatkan Istriku | Chapter II: Memori: Istriku Berubah image

Sunyi yang memikat, hening seperti tidak ada kehidupan di dalam rumahnya itu. Langkah Pak Ilham sedikit lebih cepat dibanding saat ia pulang bekerja beberapa hari yang  lalu. Sampai di lantai atas, Pak Ilham menghirup napas panjang untuk menetralkan pikirannya. Dia tidak ingin terlihat meneteskan air mata di hadapan sang istri. Perlahan, Pak Ilham membuka pintu kamar. Suster Ana masih terjaga duduk di samping tempat tidur Ibu Sarah.

“Ibu Sarah baru saja tertidur Pak, mungkin, sekitar dua menit yang lalu,” ucap suster Ana sambil berbisik karena takut membangunkan Ibu Sarah. 

“Baik Sust, terima kasih, sudah menemani istri saya beberapa hari ini. Suster bisa istirahat.” Pak Ilham membungkukkan badan memberi tanda terima kasih terhadap suster Ana. 

Ada hal yang sangat dinantikan dirinya saat pulang dari bekerja. Kenangannya bersama Ibu Sarah di depan pintu, mencium tangannya dan mengambil tas kantor yang dibawanya. Sayang, sepuluh tahun ini, adegan itu tidak ada lagi, Tuhan menghentikan skenarionya. Pemandangan yang tampak paling  jelas di hadapan Pak Ilham hanya melihat sang istri terbaring, duduk dengan pandangan kosong dan dituntun jika ingin bergerak. 

Sungguh betapa terpukulnya hati Pak Ilham menjalani kehidupan yang  sama sekali di luar dari rencananya, namun jadi rencana paling baik dari Tuhan. Sebelum beristirahat, Pak Ilham memandangi wajah Ibu Sarah. Kecantikan di masa muda Ibu Sarah mulai tergantikan dengan kerutan di usianya yang menginjak 63 tahun. Bukan memaksa melawan kenyataan, karena adanya rambut memutih adalah bukti sudah seberapa lama kehidupan seseorang direstui Tuhan untuk berada di dunia. 

Dalam tidurnya, Ibu Sarah tetap masih terlihat seorang wanita yang menentramkan dan menyenangkan. Wajah keibuan yang dimilikinya memberi jawaban dengan keberhasilan yang  dicapai anak-anaknya yang kini telah berkeluarga dan  tinggal di luar negeri. Namun, ada sisi lain yang  tidak bisa berhenti untuk dikhawatirkan yakni tentang harapan yang perlahan menipis. Pun tentang ikhtiar Pak Ilham yang selalu meminta agar harapannya segera dipulihkan menjadi kenyataan. 

Azan subuh menuntaskan malam, Pak  Ilham tidak ingin melewatkan waktu untuk bercerita dengan sang pencipta. Di akhir salat, ia selalu bersimpuh menangis melangitkan doa-doa untuk kesembuhan istrinya di atas sajadah. 

Ya Allah, tidak henti-hentinya aku memohon kepadamu. Beri kami kekuatan untuk lebih kuat lagi menerima ujian kesabaran yang Engkau beri ini. Aku merindukan dia yang tersenyum, tertawa dan bercanda. Tolong selamatkan istriku, karena atas izin-Mu semua akan terjadi. 

Kain yang melapisi sujudnya itu terlihat ada tetesan air mata ketulusan yang terjatuh. Berharap Tuhan akan memberinya kabar baik dan berbaik hati memulihkan kondisi sang istri. Larik cahaya matahari pagi dari jendela menimpa wajah Ibu Sarah. Seakan membentuk garis di pipinya. Jika saja demensia itu tidak betah berada di tubuhnya, pasti wajah orang yang sedang terbaring itu akan terlihat sangat cantik. Matanya terbuka dengan tatapan kosong, badannya sudah tidak mampu duduk tegak lagi. Sosok Ibu Sarah di mata Pak Ilham adalah perempuan yang ia jaga selama bertahun-tahun dan tidak pernah ada  alasan untuk meninggalkannya. 

Sebelum Ibu Sarah mengetahui dirinya menderita demensia, Ibu Sarah adalah perempuan pekerja keras. Perjalanannya menjadi seorang direktur di salah satu perusahaan bukan merupakan perjalanan yang mudah. Dipercayakan menduduki jabatan yang penting dalam suatu perusahaan membuatnya harus bekerja keras hingga dini hari, bahkan hingga akhir pekan.

Ibu Sarah bekerja terlalu keras dan memiliki gaya hidup yang buruk selama berpuluh-puluh tahun, akhirnya membuat kelainan saraf yang dimilikinya sejak lahir namun tidak terdeteksi perlahan-lahan menjadi semakin buruk dan memperlambat langkahnya hingga akhirnya Ia didiagnosis menderita demensia. Penyakit ini seakan bertamu ke tubuh Ibu Sarah dengan menurunkan saraf fungsi otaknya secara bertahap sehingga kemampuan intelektual dan sosialnya terganggu serta memiliki dampak yang buruk seiring berjalannya waktu jika tidak segera ditangani dengan baik. 

Ada yang berbeda dalam keseharian Ibu Sarah saat gejala-gejala awal mulai menghampirinya dan dirasakan oleh orang-orang disekitarnya, termasuk Pak Ilham. Pagi hari saat dirinya hendak berangkat ke kantor, ia lupa tasnya di letakkan dimana. 

“Pak, lihat tas Ibu gak? Tas kerja yang biasa Ibu bawa ke kantor. Di mana ya?” Tanya Ibu Sarah pada sang suami yang sedang asyik menyeduh teh hangat di meja makan.  

“Tadi, Ibu simpan di kursi dekat pintu. Biasanya juga begitu, kok, Ibu lupa?” Jawab Pak Ilham dengan masih memegang cangkir teh hangatnya di tangan kanan. 

Berawal dari perbincangan pagi hari itu. Ternyata, beberapa hari ke depan Ibu Sarah mengalami hal yang sama. Sangat sering lupa dengan apa saja yang baru terjadi, baik itu soal menyimpan barang-barang miliknya atau menceritakan suatu kejadian yang sebenarnya dua hari lalu sudah ia ceritakan kepada Pak Ilham lalu mengulanginya lagi. 

Pak Ilham selalu menanggapi istrinya. Walaupun ada rasa ganjil yang ditemukan Pak Ilham tapi, dia masih ingin mempelajarinya dulu dan tidak ingin gegabah mendiagnosis istrinya sendiri sebelum ditangani langsung oleh pihak yang memang lebih paham akan apa yang terlintas di pikirannya.

Based on true story

Written by Andi Iqriani
COPYRIGHT PT Stress Management Indonesia