Blog

8

Feb

2022

Tolong, Selamatkan Istriku | Chapter 1: Bukan Kabar Baik

Posted by Stress Management Indonesia
Tolong, Selamatkan Istriku | Chapter 1: Bukan Kabar Baik image

Gerimis membungkus malam, rintik demi rintiknya berdinamika tentang kepastian dan harapan. Begitu memesona ketika petir mulai menampakkan kilauannya di langit malam. Membuat penghuni jalan tercengang, bagaimana semesta begitu ramahnya menyapa. Roda dua tampak berjejer di sepanjang jalan, beberapa orang memasukkan kedua tangan ke lengan untuk meredam dingin, ada pula yang mengibaskan kain berwarna warni agar bisa membelah jalan tanpa terguyur hujan. 

Bayangan gedung pencakar langit, pepohonan, lampu jalan dengan cahaya memikatnya terlihat damai dilintasi roda empat yang tak punya alasan berhenti di bahu jalan. Sangat lengang namun, tetap menyenangkan melihat warna-warni lampu masih tahan menyala. Jangan lupakan, lampu rumah-rumah penduduk yang redup karena tidak ingin membayar listrik dengan harga tinggi. 

Keindahan malam masih sibuk berebut pesona dengan derasnya guyuran hujan yang dikirim Tuhan. Sudut kota mulai berbisik, kenapa air dari langit tak kunjung  berhenti. Selalu saja berhasil membuat cemas penduduk dataran rendah untuk segera menyiapkan pelampung. Semakin menghampiri pergantian hari, tetesan demi tetesannya pun perlahan memiliki banyak jeda. 

Sejak menuju rumah, gawainya terus berada di genggaman. Bukan, bukan menantikan kabar kerja sama dari pihak perusahaan lain. Namun, menantikan kabar baik dari seseorang yang sangat disayanginya hingga detik ini. Terdengar bunyi gawai di saku celana, senyumnya semringah, raut wajahnya tampak berubah saat melihat pesan masuk di layar gawainya.

Assalamu Alaikum, Pak Ilham, Saya suster Ana, mau mengabarkan jika keadaan Ibu Sarah sampai hari ini terus menurun. Apa bapak masih melakukan perjalanan bisnis? Jika boleh dipertimbangkan, saya harap bapak bisa mengecek dulu kondisi Ibu Sarah.

Pandangannya masih terus tertuju akan pesan yang baru diterima. Ternyata, keputusannya untuk pulang lebih awal sudah punya firasat bahwa sang istri sedang tidak baik-baik saja. Andai, dirinya yang mengemudikan mobil yang ditumpangi. Mungkin, akan sedikit melesat lebih cepat dibanding biasanya. 

Keinginan Pak Ilham sekarang hanya ingin segera sampai di rumah. Memori tentang sang istri hanya bisa diobati sesaat di gawai miliknya. Pak Ilham termasuk seorang pria yang sudah cukup berumur namun, sangat senang mengabadikan momen saat bersama istrinya.

Sudah 30 menit berlalu, sejak ia menerima pesan singkat dari suster yang dipekerjakan di rumahnya. Tangan Pak Ilham tergerak menurunkan kaca jendela mobil untuk menghirup udara malam hari ditambah semilir angin yang menusuk lembut kulitnya. Matanya mengeja setiap apa yang dilaluinya, ternyata masih perlu beberapa belokan lagi agar ia sampai di rumahnya. 

Rasa khawatir menghantam pikiran, bibirnya terus menggumamkan doa meminta Tuhan menjaga sang istri. Ada bulir air mata yang tidak bisa lagi dibendung, bukti ketulusan dan cinta terhadap Ibu Sarah tidak dapat dielakkan lagi dari hubungan pernikahan yang dijalani keduanya. Jari jemarinya bergetar memandangi foto demi foto yang kembali dipandangi dalam ruang minim cahaya yang lagi melesat membelah jalan ibu kota. 

Kini, matanya hanya tertuju pada satu foto. Tergambar jelas, jika Pak Ilham dan Ibu Sarah adalah pasangan yang saling menyayangi terbukti dengan banyaknya kenangan yang  diabadikan Pak Ilham dan senyum bahagia terpancar dari keduanya. Di balik memori itu, Pak Ilham seketika menjadi rapuh, bukan ingin menyalahkan takdir yang dihadapinya. Tapi, takut jika sang istri tidak bisa ditolong karena penyakit demensianya telah memasuki tahun kesepuluh. Dalam perjalanan, Pak Ilham hanya tertunduk. Berharap besok ia diberi kesempatan oleh Tuhan agar lebih memiliki banyak waktu dengan istrinya.

Ya Allah, jika di awal kami bertemu. Engkau menakdirkan aku dan istriku sebagai kekasih yang ikhlas menjalani ujianmu. Kuatkan kami, sabarkan kami. Beri kami petunjuk lewat perantara-perantara terbaik yang Engkau kirimkan ke bumi. Tolong selamatkan istriku, tolong!. 

Mobil hitam yang ditumpangi Pak Ilham mulai mengarah ke bahu jalan. Rumah bercat putih bergaya klasik itu tidak asing lagi bagi Pak Ilham. Tanpa berpikir panjang, dibukanya pintu mobil kemudian, berlalu menuju ke rumah yang dari tadi dinantikannya.

Based on true story

Written by Andi Iqriani
COPYRIGHT PT Stress Management Indonesia