Blog

28

Jan

2022

Beranjak Dewasa

Posted by Pahlawan Kebahagiaan
Beranjak Dewasa image

Perkenalkan Andhira, seorang anak berumur 11 tahun. Rambutnya berantakan, pakaiannya selalu tidak sesuai, dan kelakuannya nakal. Ia sering diberitahu kalau ia tidak seperti teman temannya yang lain yang rapi dan sopan. Tapi hal itu tidak membuatnya berhenti, bahkan Ia sampai dipanggil Andhira si pembuat masalah. Mengapa? Karena semua itu ia lakukan untuk mendapatkan perhatian Ibunya. Ibu Andhira adalah seorang pekerja keras yang seringkali tidak memiliki waktu untuk Andhira. Dan setiap kali ia melihat Andhira nakal, ia selalu memarahi Andhira. Tapi, Andhira tidak berhenti nakal, karena satu satunya cara mendapatkan perhatian ibunya adalah dengan menjadi nakal. Dan hal tersebut meninggalkan luka yang besar dan cara mencari perhatian yang salah.

Andhira adalah aku, Adya, seorang perempuan berusia 20an. Seperti yang sudah kujelaskan sebelumnya, ada luka yang besar dan cara mencari perhatian yang salah yang terbawa dari masa kecilku. Kurasa, aku memanggil Adya kecil dengan panggilan Andhira karena sebagian dari diriku tidak ingin mengakui aku dulu seperti itu. Hal-hal yang terjadi pada masa kecilku menimbulkan masalah besar pada diriku yang dewasa. Sekarang, setiap kali aku ingin diperhatikan seseorang, aku bukannya mengatakannya, tapi malah membuat masalah. Seperti pada beberapa saat yang lalu ketika pacarku sibuk dengan urusannya, bukannya memberinya dukungan, aku malah menghilang dari semua media sosial untuk mendapatkan perhatiannya, sampai sampai Ia benar-benar khawatir dan marah ketika tahu aku melakukan itu untuk perhatiannya. Waktu itu, di tempat kerja juga pernah terjadi, aku merasa tidak dilihat, sehingga aku merusak salah satu fasilitas kantor yang membuatku akhirnya dipecat.

Aku tahu semua ini salahku, tapi, aku masih saja menyalahkan ibuku yang tidak pernah memberikan perhatian kepadaku. Suatu ketika, aku melihat istilah inner child di media sosial dan dari situ, aku tahu aku harus berdamai dengan masa laluku untuk bergerak ke masa depan. Awalnya, aku tidak percaya. Tapi, pelan-pelan, aku mulai memaafkan ibuku dan diriku di masa kecil. Aku yang tidak pernah menghubungi ibuku lagi sejak lulus kuliah, memutuskan untuk menelepon ibuku dan meminta maaf. Ibuku bukan tipe orang yang sering menunjukkan emosi, tapi di telepon itu, aku bisa mendengar suaranya bergetar, dan aku pun sontak menangis kencang. Perjalanan memaafkan memang panjang, dan sampai hari ini aku belum bisa memaafkan ibuku 100%, tapi aku sudah mulai memaafkan ibuku dan ibuku juga sudah mulai memaafkan aku. Yang penting, aku sudah memulai langkah awal untuk menyembuhkan luka masa kecilku dan setiap hari aku berproses untuk menjadi lebih baik lagi.

Kurasa, pelajaran yang bisa diambil dari perjalananku adalah semua orang harus memaafkan luka masa kecilnya untuk bisa bergerak maju ke masa depan. Dan jika aku bisa memaafkan luka masa kecilku, kamu juga bisa.